Sumpah dinilai menurut maksud orang yang memintanya bersumpah, bukan menurut takwil orang yang bersumpah
Imam Ahmad : 8028حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ قَالَ أَبِي اسْمُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَقِيلٍ الثَّقَفِيُّ ثِقَةٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمِينُكَ مَا يُصَدِّقُكَ بِهِ صَاحِبُكَ
Telah menceritakan kepada kami [Abu An Nadhr] telah menceritakan kepada kami [Abu 'Aqil] berkata: bapakku yang bernama Abdullah bin 'Aqil Ats Tsaqofi adalah seorang yang tsiqqoh (terpercaya) berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Sa'id] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Sumpahmu adalah apa yang dibenarkan oleh temanmu."